SHARING TIME #PONPES SOLO
LANGKAH
KAKI DI PESANTREN
Pesantren merupakan sebuah tempat
belajar, media, dan bahkan menjadi sebuah rumah tinggal bagi sebagian orang
yang mendiaminya. Dalam keseharian di pesantren kita bisa mempelajari berbagai
segi kehidupan baik mengenai agama, sosial, maupun budaya. Dalam proses
penyusunan ulasan ini, saya bersama teman – teman satu kelompok telah mencari pondok
pesantren untuk melakukan observasi selama 24 jam di daerah Solo-Karanganyar.
Dalam proses pencarian tentu saja saya tidak langsung mendapati pesantren untuk
melakukan observasi, saya dan teman – teman bahkan baru bisa melakukan
observasi setelah menyambangi sebelas pondok pesantren. Karena saya dan teman –
teman kurang tahu pesantren apa saja yang ada di daerah tersebut, kami mencari
informasi pesantren melalui internet dan menemukan jalannya melalui GPS. Pada
hari pertama kelompok saya memutuskan untuk mencari pesantren di daerah Solo
terlebih dahulu agar observasinya tidak terlalu jauh. Saya dan teman – teman
mulai mencari pondok pesantren pada pukul sembilan pagi dengan titik kumpul di
Kampus.
Tujuan pertama kelompok saya adalah
Pondok Pesantren As-Syiroj, pondok pesantren ini terletak di daerah Surakarta.
Awalnya kami kebingungan untuk menemukan lokasinya karena harus masuk gang kecil
terlebih dahulu, tetapi setelah bertanya kepada warga sekitar kami langsung
menemukan lokasi pondok. Sesampainya di pesantren saya cukup heran karena
suasananya sepi tidak seperti di bayangan saya bahwa pesantren itu ramai dan
banyak anak. Saya dan teman – teman disambut baik oleh penghuni pesantren sebut
saja namanya Ibu Wida, beliau merupakan salah satu anggota keluarga dari
pendiri pesantren. Setelah saya dan teman – teman dipersilahkan masuk kami
langsung memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kami. Ibu Wida sangat
memahami dan mengerti tujuan kami, namun sayangnya pesantren tersebut sudah
vakum selama tujuh tahun sehingga tidak ada santri yang belajar di pesantren
tersebut. Ibu Wida juga menjelaskan beberapa hal mengapa pesantren tersebut
vakum, salah satunya karena pengurus pesantren sedang berada di luar kota
sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran maupun pengembangan
pesantren.
Ibu Wida sempat memberi kontak dan
berjanji akan membantu mencarikan pondok pesantren untuk kami jadikan tempat
observasi. Pesantren kedua yang kami kunjungi adalah Pondok Pesantren Jamsaren
yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan pesantren sebelumnya, letak pondok
pesantren ini di pinggir jalan raya sehingga kami tidak kesulitan mencarinya.
Saat tiba di pesantren saya cukup gugup karena banyak sekali santri yang berada
dalam pesantren. Kami disambut dengan baik oleh salah satu pengurus disana sebut
saja namanya Bapak Suntoro, beliau sangat baik menyambut kedatangan kami beliau
juga menjelaskan bahwa beliau senang atas kedatangan kami dan mengizinkan kami
untuk live in di pesantren tersebut. Akan
tetapi beliau menjelaskan bahwa yang melakukan pembelajaran di pondok
kebanyakan santri laki – laki oleh sebab itu saya dan teman - teman masih
mempertimbangkan untuk live in disana
dan memutuskan mencari pondok pesantren lain terlebih dahulu. Selanjutnya, saya
dan teman – teman memutuskan untuk mengunjungi Pondok Pesantren Al-Insof yang
terletak di Plesungan, Karanganyar.
Setibanya di lokasi, saya dan teman
– teman merasa cukup nyaman karena tempatnya sejuk dan cukup jauh dari jalan
raya. Saya menghampiri seorang santri dan memohon izin untuk bertemu dengan
Kiai pondok pesantren tersebut, namun ternyata Kiainya sedang ada acara diluar
sehingga saya dan teman - teman tidak bisa menemuinya. Setelah berdiskusi
kembali dengan Ustadz yang ada, beliau tidak berani mengambil keputusan dan
menyarankan kami untuk kembali di waktu sore hari. Karena sore harinya saya dan
teman – teman ada jam kuliah kami memutuskan untuk mencari pondok pesantren
lain saja dengan harapan bisa langsung diterima dan tidak mengorbankan untuk
bolos kuliah. Setelah saya dan teman – teman berpamitan, kami langsung
memutuskan untuk mencari pondok pesantren yang letaknya tidak jauh dari Pondok
Pesantren Al-Insof agar perjalanan kami lebih efisien. Kami memutuskan untuk
mencari lokasi Pondok Pesantren Darul Mubtadi’ien yang berlokasi di Kebakramat,
Karanganyar.
Saat perjalanan menuju pesantren
saya dan teman – teman menggunakan GPS
untuk menemukannya tetapi diluar ekspetasi, saya dan teman – teman “kesasar”
sampai dipinggir sawah. Kami berhenti sejenak dan mulai bertanya kepada setiap
orang yang berada di sawah tetapi mereka juga tidak tahu lokasi pesantren
tersebut. Saya dan teman- teman istirahat sebentar dan melakukan selfie karena cukup kesal dengan arah
jalan yang ada di GPS. Saya dan teman
– teman memutuskan untuk kembali mencari makan dan istirahat di warung makan pinggir
jalan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah selesai istirahat kami melanjutkan
perjalanan untuk mengunjungi Pondok Pesantren Al-Ahad di Karanganyar. Saat di
perjalanan kami sempat kehujanan dan berteduh di salah satu rumah warga lalu
memutuskan berhenti karena tidak membawa jas hujan. Setelah dirasa cukup reda
kami melanjutkan perjalanan menuju pesantren, tanpa diduga saat kami kembali di
jalan raya hujan tiba – tiba lebat kembali, karena saya dan teman – teman sudah
cukup kesal hujan tidak kunjung reda kami tetap melanjutkan perjalanan meski
harus basah kuyup. Karena keadaan sudah basah saya dan teman – teman memutuskan
untuk berhenti sejenak di Masjid dan melakukan salat dalam keadaan basah.
Saya dan teman - teman melanjutkan
perjalanan dengan modal basah kuyup dan GPS
yang memutar – mutarkan perjalanan karena kami harus perputar – putar di
beberapa gang yang letaknya cukup jauh dari jalan raya. Kami memutuskan untuk
bertanya kepada warga karena tidak kunjung menemukan pesantren yang kami
maksud. Setelah beberapa arahan dari warga kami langsung berjalan dan akhirnya menemukan
pesantren tersebut. Pondok pesantren ini ternyata terletak di dalam gang kecil
yang sebenarnya telah terlewati oleh saya dan teman – teman. Sesampainya di
pondok pesantren kami cukup sungkan harus berkunjung dalam keadaan kehujanan
dan basah karena tidak membawa jas hujan. Kami disambut baik dan mendapat
tanggapan baik dari pengurus pesantren. Pesantren ini ternyata merupakan
pesantren terbuka dan memiliki visi sosial karena menampung anak – anak
terlantar dan anak - anak yatim di
dalamnya. Saya dan teman – teman langsung mengutarakan maksud dan tujuan
berkunjung ke pesantren tersebut namun karena pemiliknya sedang istirahat
pengurus sekaligus putri dari pemilik pesantren tersebut belum bisa mengambil
keputusan dan hanya meminta kontak telepon apabila sudah ada keputusan pasti
beliau janji akan menghubungi kami.
Selesai di pesantren tersebut saya
dan teman – teman memutuskan kembali ke kos untuk istirahat dan melanjutkan
untuk ke kampus. Di pencarian kedua, saya dan teman – teman memutuskan
mengunjungi Pondok Pesantren Mahasiswa Ar-Royan yang terletak di Jebres. Saat
tiba di pesantren saya hanya menemui seorang mahasiswa yang menjadi santri
disana, pemilik ataupun pengurus di pesantren sedang tidak ada ditempat dan
mahasiswa tersebut menyarankan kepada saya juga teman – teman untuk mengunjungi
pesantren di belakang UNS saja karena kegiatan disana lebih banyak dan cocok
untuk observasi. Setelah itu saya dan teman – teman menuju ke pondok pesantren
yang di maksud, namun karena pesantren tersebut juga pesantren mahasiswa saya
dan teman – teman memutuskan mencari pesantren lain yang basisnya bukan
pesantren mahasiswa. Saya dan teman -
teman melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren yang terletak di
Mojosongo, yaitu Pondok Pesantren Al-Islam. Setibanya di pindok saya dan teman
– teman tidak menemui pemilik maupun pengurusnya, kami hanya menemui beberapa
anak kecil yang memberitahukan bahwa pemilik sedang tidak ada ditempat. Seorang
penduduk yang sedang ada disana juga mengatakan bahwa pemilik biasanya tidak
ada disaat siang hari seperti saat itu. Selanjutnya saya dan teman – teman melanjutkan
perjalanan menuju Pondok Pesantren Iman Bukhari yang kebetulan kami lewati saat
akan menuju arah jalan pulang.
Pihak pondok pesantren menjelaskan
apabila santri sedang libur dan kami belum diizinkan berdiskusi lebih lanjut
karena belum membawa surat izin dari kampus sehingga belum diizinkan untuk live in di pondok pesantren tersebut. Setelah itu, saya dan teman – teman mencoba
lagi untuk mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur’an yang terletak di
Surakarta. Sesampainya di pondok pesantren saya dan teman – teman disambut
dengan baik oleh pengurusnya dan langsung mengutarakan tujuan datang ke
pesantren tersebut. Pengurus pondok pesantren, sebut saja ustadzah Nurul
menyampaikan bahwa santri sedang melakukan kegiatan UTS dan kegiatan santrinya
cukup dibatasi dengan tujuan fokus pada UTS. Oleh sebab itu ustadzah
menyarankan kepada saya dan teman – teman untuk mempertimbangkan lagi apakan
akan live in atau tidak dalam keadaan
kegiatan santri tidak sesuai dengan keseharian biasanya. Karena saya dan teman
– teman tidak mungkin melakukan live in dalam
keadaan kegiatan seperti itu kami memutuskan untuk mencari pondok pesantren
lain di hari selanjutnya.
Saya dan teman – teman hanya
memiliki satu harapan pondok pesantren yaitu Jamsaren, padahal santri disana
mayoritas laki – laki dan tentunya nanti kami satu kelompok akan sangat sungkan
melakukan observasi disana. Saat saya dan teman – teman merasa kesulitan
mencari pesantren, Ibu Wida dari pondok pesantren As-Syiroj menghubungi saya
dan menyarankan untuk mengunjungi Pondok Pesantren Al-Muayyad yang letaknya di
Surakarta. Karena pondok tersebut sudah digunakan oleh kelompok laki – laki
saya dan teman – teman sekelompok berusaha membujuk mereka untuk bertukar
pondok pesantren. Kelompok laki – laki di Jamsaren dan kelompok perempuan di
Al-Muayyad. Terjadi beberapa perbedaan pendapat antara kelompok saya dengan
kelompok laki – laki. Namun karena mendapat dukungan dari teman – teman perempuan
satu kelas, kelompok saya memutuskan mencari surat izin dan mengunjungi Pondok
Pesantren Al-Muayyad. Sesampainya di pondok pesantren saya dan teman-teman
disambut baik oleh pengurus pondok putri, mbak Hasanah namanya. Ia menyampaikan
bahwa saya dan teman – teman boleh menginap dan melakukan observasi dengan
syarat saat berada di lingkungan pondok selalu menggunakan rok dan saat di
kamar tidak mempengaruhi santri untuk memainkan telepon genggam.
Karena masih ada waktu luang, saya
dan teman – teman sengaja mengunjungi Pondok Pesantren Az Zayyadi yang letaknya
tidak jauh dari Pondok Pesantren Al-Muayyad dengan harapan kami bisa observasi
disana dan tidak merepotkan kelompok laki – laki karena sebenarnya saya dan
teman –teman juga merasa kasihan apabila kelompok laki – laki harus pindah
pesantren. Pengurus Pondok Pesantren Az Zayyadi mengizinkan saya dan teman –
teman untuk live in namun kegiatan pada
saat kami menginap hanya khataman Al-Qur’an saja karena bertepatan dengan
agenda menuju malam jum’at kliwon. Karena hal tersebut saya dan teman – teman
menutuskan untuk tetap observasi di Pondok Pesantren Al-Muayyad saja. Pondok
Pesantren Al-Muayyad, merupakan pondok pesantren yang terletak di Laweyan,
Surakarta. Pondok pesantren ini merupakan pondok pesantren NU tertua di Solo
yang didirikan oleh K.H Abdul Mannan bersama K.H Shofawi dan Prof.K.H,Moh Adnan
pada tahun 1930. Awalnya, proses pembelajaran terbagi menjadi tingkatan Madrasah
Diniyyah, Mts dan SMP, serta MA dan SMA, namun saat ini terbagi menjadi
tingkatan Mts, MA, dan SMA saja.
Selain tingkatan itu, di dalam
asrama juga masih terdapat santri yang sudah lulus sekolah akademik tetapi
tetap tinggal karena program keagamaannya belum lulus. Pondok pesantren ini
dilengkapi dengan asrama putra maupun putri yang bisa kapanpun dikunjungi oleh
kerabat dekatnya. Pada pagi hari seluruh santri masuk sekolah untuk mendapatkan
pembelajaran akademik dan pada siang menjelang sore harinya masuk sekolah
kembali untuk mendapatkan pembelajaran agama. Setelah salat ashar para santri
memiliki waktu luang untuk belajar mandiri, makan, bersih – bersih maupun
mandi. Setelah waktu maghrib tiba mereka mulai salat berjamaah di Masjid, akan
tetapi apabila Masjid sudah penuh jamaah santri perempuan biasanya sebagian
salat di aula. Selesai salat maghrib seluruh santri melakukan pengajian
bersama, biasanya mereka melakukan “semakan” ayat suci Al-Qur’an dan yang
mengikuti program tahfidz biasanya melakukan setor hafalan. Pengajian dan
hafalan dilakukan sampai menunjukkan waktu isya’, apabila adzan dikumandangkan
seluruh santri bergegas ke Masjid dan melakukan salat berjamaah. Selesai salat saya
bersama teman – teman dan santri pondok melakukan kajian mengenai pembelajaran
kitab kuning.
Pada saat observasi kitab saya
bersama teman – teman melakukan kajian mengenai kitab Ta’lim Muta’lim,
berdasarkan wawancara ternyata setiap hari kitab yang dikaji di dalam pesantren
berbeda – beda sesuai jadwal yang ditentukan pengurus dan pengkaji/
penceramahnya juga berbeda – beda setiap harinya. Pembelajaran kitab biasanya
selesai sekitar pukul sembilan malam, selesai kajian kitab para santri kembali
ke bangsal masing – masing untuk istirahat. Di asrama putri terdapat empat
lantai yang terdiri dari lantai pertama digunakan sebagai aula dan ruangan
pengurus, lantai dua digunakan sebagai bangsal santri SMP, lantai tiga
digunakan sebagai bangsal santri SMA, dan lantai empat digunakan sebagai
bangsal tahfidz. Biasanya para tahfidz yang belum lulus bagiannya ikut membantu
pengurus untuk jaga kantin, perpustakaan sekolah maupun gerbang untuk mengisi
waktu senggang mereka. Jam malam santri diberlakukan maksimal sampai pukul
sebelas malam, setelah lewat waktu tersebut mereka tidak diizinkan keluar dari
area asrama dan dianjurkan untuk istirahat. Pada waktu salat tahajud, salat dilakukan
secara individu dan tidak berjamaah seperti salat fardu dan saat waktu subuh
mereka langsung bergegas wudhu untuk berjamaah di Masjid.
Selesai salat subuh para santri
biasanya mengaji dan setelahnya langsung mempersiapkan diri untuk melakukan
aktivitas seperti biasanya. Sebelum beraktivitas ketua bangsal ataupun giliran
piket mengambil jatah makanan yang diletakkan di nampan dan baru setelahnya
dimakan secara beramai – ramai dengan satu penghuni bangsal. Setiap bangsal
biasanya terdiri dari 20 santri bahkan lebih sesuai dengan luas bangsal yang
ditempati. Pada saat observasi saya dan teman – teman kebetulan menempati
bangsal lantai empat bersama para tahfidz yang sudah lulus sekolah akademik. Ada
sekitar limabelas tahfidz yang masih menempati bangsal itu, kebanyakan mereka
adalah lulusan SMA tahun 2017 yang berarti seumuran dengan saya dan teman –
teman, namun ada beberapa yang lulusan tahun 2016 di bangsal itu. Berdasarkan
wawancara setiap santri dikenakan biaya Rp.600.000,00/bulan untuk kegiatan
pembelajaran dan konsumsinya. Di pondok sendiri terdapat program pengembangan
diri yang bertujuan utama untuk melatih kepekaan berfikir optimis dan positif
dalam kehidupan sosial.
Tujuan tersebut terbukti pada saat
observasi saya merasakan bahwa santri yang ada di Pondok Pesantren Al-Muayyad
memiliki nilai kekerabatan yang sangat tinggi. Hal tersebut saya amati dari
cara makan sampai cara tidur mereka. Mereka makan di dalam satu nampan yang
sama, minum dalam satu gelas yang sama dan saling membantu di dalam membereskan
bangsal tempat mereka tinggal. Para santri juga memiliki nilai kekeluargaan
yang sangat bagus karena mereka begitu mengerti antara santri satu dengan
santri yang lainnya. Hal tersebut membuat saya merasa sudah begitu nyaman
tinggal bersama mereka meskipun hanya dalam hitungan jam saja. Mereka sangat welcome dengan orang luar serta
menganggap bahwa orang luar adalah bagian dari mereka sendiri.
Setiap tahfidz yang ada di dalam
bangsal biasanya melakukan hafalan sebanyak dua kali dalam sehari, biasanya
mereka hafalan pada pagi dan malam hari. Dalam satu hari mereka dianjurkan
untuk menghafal minimal satu halaman Al-Qur’an. Di dalam pondok pesantren
dilakukan agenda mingguan yaitu pengajian bersama orang – orang luar dan para
santri yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Muayyad. Pada saat malam
jum’at para santri juga biasa melakukan acara tahlil ba’da maghrib. Dalam acara
tahunan pihak pesantren juga sering mengadakan acara seperti pengajian di bulan
– bulan tertentu seperti bulan muharrom dan bulan shofar. Selain acara
pengajian para santri biasanya diajak untuk melakukan ziarah kubur ke maqom
sesepuh mereka untuk mendoakan agar para sesepuh bisa tenang dan amalannya
diterima.
Refleksi yang dapat kita ambil
didalam hasil observasi adalah proses pembelajarannya yang utama. Proses
pembelajaran yang diterapkan di dalam Pondok Pesantren Al-Muayyad pada dasarnya
menggunakan metode studi Islam klasik yang menekankan pembelajarannya pada
bagian keagamaan. Mengandalkan metode membaca dan menulis sebagai metode umum
yang harus diterapkan dalam setiap pembelajaran di pondok. Membaca Al-Qur’an
dan menghafalnya juga dianjurkan dalam pembelajaran agama di pondok pesantren
ini sehingga seluruh santri mampu untuk memahami kandungan yang terdapat di
kitab suci mereka secara lebih gamblang dan jernih. Selain metode pembelajaran
tersebut seluruh santri juga diajarkan mengenai pokok – pokok ajaran Islam yang
mana mampu membuat pribadi santri menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab
atas apa perbuatan yang telah mereka lakukan.
Kesimpulannya, studi Islam klasik
yang diterapkan dalam proses pembelajaran di pondok pesantren masih sangat
melekat di dalam diri pengurus dan pengajarnya. Mereka menggunakan metode –
metode klasik untuk membuat setiap didikannya memiliki sikap dan perilaku yang
sesuai dengan aturan yang mereka tetapkan dan mereka anut. Namun, meskipun
metode yang digunakan masih dalam ranah klasik seluruh santri saya pastikan
bisa mengikuti dan menyaring perkembangan teknologi yang saat ini berkembang.
Hal tersebut terbukti dari pola fikir mereka, cara berbicara, dan pemanfaatan
teknologi yang mereka gunakan. Meskipun akses media mereka dibatasi mereka
mampu untuk memanfaatkan aplikasi – aplikasi di media sosial bahkan ada dari
mereka yang bisa berjualan online. Hal tersebut menggambarkan bahwa mereka
tetap mengikuti perkembangan namun memiliki batasan tersendiri dalam
penggunaanya sehingga tidak menganggu pembelajaran studi Islam dan bahkan mampu
menambah wawasan mereka.
Komentar
Posting Komentar