REVIEW AL MARAGHI JILID 1 BAB 1


STUDI ISLAM KLASIK UNTUK MAHASISWA SMART GENERASI MILENIAL

Di era milenial seperti saat ini, perkembangan ilmu sangatlah pesat dan signifikan. Berbagai pengetahuan dapat kita pelajari baik melalui buku ataupun lebih mudahnya melalui internet. Ilmu atau informasi dari internet bisa kita akses dalam keadaan apapun dengan cepat dan mudah. Hal tersebut memberi kita peluang besar untuk mempelajari semua hal yang kita suka maupun kita ingin tahu, tak terkecuali untuk mempelajari studi Islam klasik. Dalam realitanya kita bisa mempelajari studi Islam klasik melalui kitab – kitab tafsir baik yang asli maupun terjemahan, kita juga bisa mempelajari metode studinya melalui internet dan pemahaman tafsir. Selain itu kita bisa mempelajari studi Islam klasik melalui penuturan orang yang dianggap pandai dalam bidang agama ataupun melalui cerita masa lampau.
Ulasan ini akan menjelaskan bagaimana refleksi kita sebagai seorang mahasiswa smart yang berada pada masa generasi milenial mengenai studi Islam klasik. Sumber utama tulisan ini mengacu pada kitab tafsir Al-Maraghi 1 yang membahas mengenai tafsir Surah Al-Fatihan dan Surah Al-Baqarah. Sebelum uraian disampaikan, saya akan mencantumkan biografi penafsir kitab. Ahmad Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi(Al-Maraghi) merupakan seorang ahli tafsir yang berasal dari keluarga yang sepenuhnya mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan secara turun – temurun. Kota Maraghah merupakan tempat kelahiran Al-Maraghi, beliau lahir pada tahun 1300 H./1883 M. Pada usianya yang ke-71 tahun (1371 H./1951 M.) Al-Maraghi meninggal dunia di Hilwan.
Al-Maraghi merupakan salah satu anak dari delapan bersaudara yang lima diantaranya adalah lelaki semua. Sejarah pendidikan beliau dimulai pada saat kanak – kanak yang dilaluinya dalam lingkungan religius. Beliau juga menempuh pendidikan dasar di sebuah Madrasah. Sebelum usianya menginjak 13 tahun, beliau mampu menghafal seluruh ayat yang termuat di dalam Al-Qur’an. Setelah beliau menamatkan pendidikan dasarnya, beliau melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar (Kairo). Selain itu, beliau juga mengikuti studi di dalam Universitas Darul Ulum (Kairo). Al-Maraghi mampu menamatkan studi di dua Universitas secara bersamaan pada 1909 M.
Setelah menamatkan studinya, Al-Maraghi mulai berperan aktif di masyarakat pada bidang pendidikan dan pengajaran ilmu agama maupun pengetahuan. Al-Maraghi berperan sebagai seorang guru di madrasah setempat. Di samping itu, Al-Maraghi diangkat sebagai direktur di madrasah tempatnya mengajar, selang beberapa tahun beliau diberi amanah menjadi dosen utusan untuk mengajar di sebuah Universitas. Setelah kewajibannya terselesaikan, beliau menetap ke Mesir dan dipercayakan kembali untuk menjadi seorang dosen di beberapa departemen sekaligus. Al-Maraghi memiliki kesibukan lain dengan mengajar di beberapa madrasah Mesir. Selama mengerjakan kewajiban disana, Al-Maraghi memiliki kediaman di daerah Hilwan sampai akhir hayat dan nama beliau diabadikan sebagai nama jalan di daerah itu.
Al-Maraghi telah menuliskan banyak karya pengetahuan dan salah satunya adalah sumber tulisan ini, yaitu Kitab Tafsir Al-Qur’an Al Karim atau biasa dikenal dengan Tafsir Al-Maraghi. Kitab ini disusun dan dituliskan oleh Syekh Ahmad bin Musthafa Al Maraghi (1361 H-1365 H) dengan menggunakan dua mazhab, yaitu mazhab Syafi’iyyah dan mazhab Asy’ariyyah. Kitab ini ditulis menggunakan bahasa Arab dalam 10 Jilid yang setiap jilid terdapat 1 juz. Pembahasan utama ulasan ini merujuk pada kitab jilid 1 juz 1 yang membahas mengenai Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah. Dalam kitab jilid 1 ini penyusun menyampaikan uraian tafsirnya menggunakan beberapa metode, yaitu :
1.      Menyampaikan ayat – ayat di awal pembahasan
Pada setiap bahasan tafsir, kita akan menjumpai satu, dua ataupun lebih ayat sehingga kita menjadi mudah mengerti maksud dari penafsiran tersebut.
2.      Penjelasan kata – kata
Setelah penulisan ayat, penyusun menyertakan penjelasan – penjelasan tafsir secara bahasa. Hal tersebut ditujukan agar pembaca tidak bingung mengenai kata – kata yang cukup sulit dimengerti/ dipahami.
3.      Pengertian ayat secara ijmal
Bagian ini bertujuan untuk memberi pengertian ayat – ayat secara global. Oleh karena itu, pembaca mampu mengetahui makna ayat – ayat secara ijmal terlebih dahulu sebelum membahas penafsiran yang menjadi topik utama.
4.      Asbabun-Nuzul (sebab- sebab turun ayat)
Dalam ulasannya, penulis juga menyampaikan bahasan asbabun-nuzul jika terdapat riwayat sahih dan hadist yang menjadi pegangan para mufassir.
5.      Mengesampingkan istilah – istilah yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan
Penulisan tafsir Al-Maraghi mengesampingkan hal – hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Hal tersebut bisa diterapkan degan tujuan agar pembaca mampu memahami tafsir secara murni dan tidak tercampur dengan masalah yang ada di dalam ilmu lain. Karena, apabila pembaca memahami permasalahan tafsir yang dicampur dengan ilmu lain dikhawatirkan akan mempersulit pembaca dalam pemahamannya.
6.      Gaya bahasa para Mufassir
Kebanyakan mufassir zaman dulu telah menggunakan gaya bahasa ringkas dalam metode penafsirannya. Namun, penulis ini berusaha memberikan warna baru mengenai penafsiran dengan cara menulis tafsir dengan gaya bahasa yang sesuai dengan kehidupan di setiap masa. Dalam tafsiran ini penulis berupaya untuk menafsirkan suatu masalah dengan bantuan penelitian sains bukan lagi merujuk pada pendapat orang terdahulu. Hal tersebut dikarenakan pola berfikir manusia di masa sekarang cenderung sulit untuk menerima hal – hal yang diluar nalar/logika.
7.      Pesatnya sarana komunikasi di masa modern
Tafsir ini disampaikan setelah dibaca dan dibahasnya kitab – kitab tafsir terdahulu sehingga penafsiran ini mampu menyajikan tafsir yang komplit dan tidak tanggung ulasannya. Tafsir ini juga mengemas penyampaian dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif agar mudah dipahami.
8.      Seleksi terhadap kisah – kisah yang terdapat dalam kitab – kitab tafsir
Pembahasan tafsir ini tidak mengambil pendapat yang disampaikan melalui cerita – cerita orang zaman dahulu. Kecuali, cerita tersebut tidak bertentangan dengan prinsip agama yang tidak diperselisihkan.
9.      Jumlah juz tafsir
Tafsir Al-Maraghi telah menyusun sebanyak 10 jilid yang setiap jilidnya berisi satu juz dalam Al-Qur’an.
Pembahasan ini akan menyampaikan kandungan yang terdapat di dalam salah satu ayat di jilid 1. Yaitu pada, Q.S.Al-Baqarah: 3 yang artinya “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Ayat ini menjelaskan pembenaran secara pasti mengenai kepercayaan dan ketaatan kita kepada perintah Allah. Kita harus mempercayai atau lebih tepatnya mengimani seluruh ciptaan Allah yang di dalamnya termasuk ciptaan gaib. Gaib adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui dengan panca indra, seperti Zat Allah, Malaikat, Hari Akhir dan apapun yang akan terjadi di hari akhir, semisal saja penghitungan amal manusia.
Pada dasarnya orang – orang yang memiliki keimanan kuat pada yang gaib, mereka sangat mudah untuk membenarkan adanya Pencipta. Namun bagi orang – orang yang memiliki paham materialisme, mereka cenderung mengabaikan bahkan sulit untuk percaya kepada hal – hal yang sulit dijangkau panca indra. Kandungan ayat selanjutnya mengenai salat yang dibenarkan. Pada dasarnya salat memiliki pengertian sama dengan doa secara bahasanya. Memanjatkan doa kepada Allah, mengartikan bahwa hambanya senantiasa menunjukkan kebutuhan mereka kepada Allah. Dalam agama Islam sendiri ditegaskan bahwa pengungkapan paling baik seorang hamba akan kebutuhan mereka terhadap-Nya adalah melalui salat. Salat yang baik harus senantiasa benar menurut syariat – syariat agama dan dilakukan secara ikhlas serta kusyu’.
Allah telah menjelaskan peran positif dari salat sesuai dengan firman yang diturunkannya. Salah satu kebaikan salat yaitu, mampu menjauhkan siapapun yang melaksanakannya dari perbuatan – perbuatan keji dan mungkar. Salat dikerjakan dengan hukum fardu dan ditentukan waktunya. Allah juga menganjurkan makhluknya untuk melaksanakan salat secara jama’ah. Kandungan terakhir dalam Q.S.Al-Baqarah: 3 adalah cara kita memanfaatkan rezki yang telah Allah berikan kepada kita. Rezki bisa kita artikan sebagai pemberian nikmat dari Allah, oleh karenanya hanya pemberian dan tidak semua pemberian itu adalah hak kita maka kita harus memahami bagaimana pemanfaatan rezki secara baik.
Dalam beberapa ayat-Nya telah dijelaskan bagaiman pemanfaatan ekonomi dan himbauan menabung harta sesuai ajaran Islam. Kita dianjurkan untuk menafkahkan rezki yang telah kita terima sebagai anugerah dengan cara berbagi kepada orang lain. Kita bisa melakukan sedekah ataupun infaq sebagai salah satu cara penafkahan kepada orang – orang yang kurang mampu dibandingkan dengan kita. Selain itu kita juga bisa melaksanakan zakat sebagai salah satu bentuk berbagi kita kepada orang lain tanpa harus mengharap imbalan lebih dengan arti lain kita melakukannya secara ikhlas dan penuh kesadaran bahwa di dalam rezki kita masih terdapat hak orang lain. Namun pada kenyataannya masih banyak orang yang rela untuk melakukan kebaikan maupun puasa namun mereka akan berusaha menghindar dan memalingkan muka apabila dihadapkan pada persoalan infaq harta benda.
Ulasan ayat diatas mengingatkan kepada kita bahwa sebagai seorang muslim yang smart kita harus mampu memahami berbagai ilmu dengan cara mempelajari ilmu terdahulu lalu kita bisa mengambil kesimpulan spesifik. Di samping itu kita harus paham akan penafsiran ayat dalam berbagai sumber agar kita mampu untuk melaksanakan kebaikan dan mengambil berbagai pembelajaran di sebuah peristiwa dengan benar. Studi Islam harus kita manfaatkan sebagai wadah penelitian terhadap pendapat ataupun sumber terdahulu agar kita yakin dengan apa yang kita percayai dalam ajaran Islam. Kesimpulannya kita harus lebih kritis terhadap suatu kalimat apapun dalam pembelajaran ataupun dalam keseharian agar kita mampu mempercayai hal spesifik dengan ulasan yang benar. Selain itu kita juga harus percaya bahwa setiap aturan yang ditetapkan Allah adalah suatu hal yang benar dan baik bagi kehidupan kita.

Komentar

  1. akan lebih baik jika ditambahkan gambar ayat al quran yang mendukung dengan bacaanmu. tapi overall, bagus kok. dik manis

    BalasHapus

Posting Komentar