Studi Islam

METODOLOGI STUDI ISLAM
SEJARAH DAN METODE ILMU – ILMU KEISLAMAN DI MASA KLASIK


A.    ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
Awal mula munculnya Islam, agama ini telah menganjurkan umatnya untuk mencari dan mempelajari ilmu agama serta ilmu pengetahuan yang berasal dari sumber ilmu asli. Alasan utama umat Islam dianjurkan mencari ilmu dari sumber asli agar hasil dari pembelajaran dapat dipertanggungjawabkan dan setiap umat yang mempelajarinya dapat mengembangkan serta memanfaatkan ilmunya sesuai konteks atau bagian yang dipelajari. Sumber utama dari ilmu yang dipelajari umat Islam adalah Al-Qur’an dan Hadist. Pada awal dipelajarinya ilmu, pusat pengetahuan dan pendidikan Islam terletak di Madinah. Madinah menjadi pusatnya karena ilmu itu diajarkan Nabi Muhammad saw pertama kali di Madinah dan terus menyebar ke wilayah barat maupun timur secara perlahan namun konsisten.
Dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu, langkah utama Nabi Muhammad yaitu dengan membentuk beberapa sekolah dan memberantas buta huruf pada beberapa daerah di Madinah. Nabi sendiri selalu mengajarkan umatnya mengenai ilmu agama dan ilmu pengetahuan secara seimbang dengan tujuan umatnya dapat memahami agama dengan sudut pandang yang realistis dan masuk di akal. Bahkan pada saat pembelajaran, apapun yang diucapkan Nabi selalu ditulis oleh sahabatnya yang kemudian dikumpulkan dan saat ini kita kenal dengan istilah Hadist. Pada dasarnya setiap ilmu dan kajian dapat kita pahami secara realistis apabila kita memperdalam dan memahami tata bahasa yang ada dalam ilmu tersebut. Dengan berkembangnya ilmu agama dan ilmu pengetahuan terbentuklah beberapa organisasi pendidikan Islam.
Organisasi pendidikan Islam dibedakan menjadi delapan bagian, yaitu:
Ø  Halaqah/ pengkajian yang dilakukan dengan cara duduk melingkar dan guru menerangkaan ditengah – tengah murid.
Ø  Sekolah Menulis/ sekolah yang diadakan dirumah guru dan muridnya menghampiri guru untuk diberi pengajaran.
Ø  Sekolah Istana/ sekolah yang diadakan di Istana Kerajaan.
Ø  Sekolah Masjid/ sekolah yang diadakan di Masjid.
Ø  Sekolah Toko Buku/ sekolah yang diadakan seperti di dalam perpustakaan.
Ø  Sanggar Sastra/ sekolah yang hanya dihadiri oleh orang terpilih untuk saling bertukar pikiran tentang sastra dan ilmu pengetahuan.
Ø  Madrasah/ sekolah tinggi yang fokus pada pembelajaran ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.
Ø  Universitas/ sekolah yang hampir sama seperti Madrasah namun sifatnya lebih kompleks. Universitas didirikan sebagai puncak krjayaan ilmu pengetahuan di Zaman Klasik.

B.     PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI DALAM ISLAM
Awal mula perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam berasal dari pembelajaran umat manusia mengenai ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Dalam proses pembelajaran ilmu agama setiap umat juga dianjurkan untuk mempelajari bahasa Arab dan peradaban hidup. Setelah umat Islam mampu mengaplikasikan ilmu agamanya di kehidupan sehari – hari dan mengembangkannya, mereka kemudian mempelajari ilmu pengetahuan. Mereka mempelajari ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk menyeimbangkan ilmunya agar bisa diterima seluruh umat pada umumnya dan dapat dijabarkan secara ilmiah atau realistis sehingga masuk di akal. Ilmu pengetahuan yang dipelajari meliputi fisika, ilmu pengetahuan alam, matematika, bahasa dan sejenis ilmu pengetahuan umum lainnya. Dalam pembelajaran umat Islam juga diajari mengenai ilmu yang bersifat batin seperti Tasawuf.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan dalam Islam dibagi menjadi empat bagian, yaitu ilmu agama, ilmu budaya, ilmu alam, dan ilmu sosial. Dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan ini terdapat tiga macam pengetahuan nalar yang biasa disebut corak retoris/diakletis (bayani), corak demonstratif (burhani), dan corak gnosis (’irfani). Dari masing – masing pengetahuan nalar memiliki perspektif berbeda mulai dari bayani yang berpijak pada keagamaan dan periwayatan dari masa ke masa. Selanjutnya ‘irfani menggunakan metode penyingkapan dalam metodologi tradisi Islam. Sedangkan burhani menggunakan eksperimen dan penalaran untuk mempelajari ilmu pengetahuannya.
Cara umum yang digunakan umat Islam untuk menuntut ilmu adalah dengan menggunakan metode hafalan dan metode tulisan. Metode hafalan awalnya dikhususkan untuk pembelajaran dan pemahaman Al-Qur’an dan Hadist. Hal tersebut dikarenakan Nabi Muhammad saw menganjurkan setiap umatnya untuk menghafalkan Al-Qur’an beserta kajian – kajian di dalamnya. Namun karena penghafal mulai berkurang maka berkembanglah metode tulisan yang saat ini lebih diandalkan sebagai metode pengajaran karena tidak akan pernah keliru selama tulisannya sama seperti apa yang diajarkan. Sampai masa modern seperti ini metode tulisan masih banyak bahkan berkembang tata cara penulisannya.
Di samping berkembangnya metode tulisan ada seorang tokoh klasik yang beranggapan bahwa kreatifitas dan orisinalitas ilmiah berangsur menurun. Hal tersebut mungkin terjadi karena kesalahan penulis yang kurang kompeten maupun penulis yang hanya sembarangan memasukkan sumber informasi kurang jelas atau bahkan menyesatkan. Sebenarnya orisinalitas ilmiah sendiri muncul melalui penelitian dan review langsung hasil pengamatan bukan melalui hasil karya orang lain. Setelah adanya metode hafalan dan tulisan, dalam proses perkembangan ilmu juga terdapat metode transmisi keilmuan islam yang biasanya langsung terjadi antara pengajar dan pelajar. Metode transmisi sendiri masih banyak digunakan oleh pengajar umum di sekolah maupun bangku perkuliahan saat ini.
Ternyata pada masa klasik sendiri Islam telah mengatur pengutipan dalam etika keilmuan Islam. Dalam uraiannya terdapat secara rinci bagaimana etika pengutipan yang benar dan tidak menyalahi ilmu pengetahuan. Ilmu tersebut juga menerangkan bagaimana tata letak pengutipan yang seharusnya kita selang seling dengan pendapat kita sendiri agar ilmunya sampai dengan benar dan tidak ada pembohongan. Pengutipan sudah ada sejak masa klasik dan banyak tersebar luas dan digunakna oleh para penulis. Penulis bisa saja memasukkan kutipan dalam banyak kalimat atau hanya kutipan pendek dan kadangkala tidak mencatumkan sumber kutipan. Tapi bukankah pada dasarnya tata cara menulis dan mengutip selalu berubah sesuai dengan berganti dan berkembangnya masa kehidupan.

C.     ILMU – ILMU KEISLAMAN: METODE DAN SUMBER
Ilmu keislaman mencakup ushul fiqh, ilmu ma’ani (ilmu tentang makna/semantik), ilmu tafsir Al-Qur’an, dan kritik sastra. Dalam metode ilmiah ada seorang tokoh yang mengidentifikasikan sumber pengetahuan utama yaitu pengetahuan yang terdapat dalam teks dan pengetahuan deduktif. Untuk memahami kajian dalam Al-Qur’an seorang tokoh klasik juga membedakan tingkat kejelasan teks menjadi tiga bagian. Pertama adalah bagian teks jelas (bayyin), kedua tingkat yang tampak (zahir) dan ketiga tingkat global. Metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu keislaman ini adalah metode pendekatan kebahasaan yang kemudian dilanjutkan dengan metode periwayatan.
Metode periwayatan banyak digunakan oleh muslim untuk menyampaikan ilmunya dengan melalui kitab – kitab tafsir yang banyak ditulis pada masa perkembangan ilmu keislaman. Selain itu, umat Islam memiliki ketertarikan lebih untuk mempelajari sejarah Nabi Muhammad saw dan keterlibatannya dalam berbagai perang. Umat Islam juga memiliki keterkaitan lebih karena ungkapan Nabi dijadikan sebagai sumber kedua syariat Islam. Oleh muslim pada umumnya, ahli Hadist dipandang sebagai ahli pengkaji sejarah karena mereka memiliki perhatian besar dalam mengkaji berita tentang Nabi. Hal tersebut membuat ilmu sejarah menjadi tercampur dengan ilmu Hadist. Sebenarnya sampai saat ini bentuk metode pengkajian ilmu berkembang banyak namun karena adanya kemunduran Islam bangsa Barat menjadi terlibat intens dalam kajian dan penelitian Islam.

Hasil resume buku Metodologi Studi Islam (Sejarah dan Metode Ilmu – Ilmu Keislaman di Masa Klasik), Dr. Ismail Yahya, MA., Tahun 2015.

Komentar