SHARING TIME #TANAH WAKAF
Halo Teman-teman...Jadi aku mau cerita nihhh hehe...
Aku melakukan observasi dan wawancara perdana pada Minggu, 22 Oktober 2017. Aku melakukan observasi dan wawancara mengenai masjid di dusunku yaitu dusun Petir RT: 08/RW: 05, desa Petirsari, kecamatan Pracimantoro, kabupaten Wonogiri.
Dannn... ini dia hasilnya....
Aku melakukan observasi dan wawancara perdana pada Minggu, 22 Oktober 2017. Aku melakukan observasi dan wawancara mengenai masjid di dusunku yaitu dusun Petir RT: 08/RW: 05, desa Petirsari, kecamatan Pracimantoro, kabupaten Wonogiri.
Dannn... ini dia hasilnya....
v GEOGRAFIS
Masjid Ali Khodijah adalah sebuah masjid yang
terletak di dusun Petir RT: 08/RW: 05, desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro ,
kabupaten Wonogiri. Tepatnya di pinggir desa samping gunung kulon dekat tugu
pembatas dusun.
v DI MANFAATKANNYA TANAH WAKAF
Masjid Ali Khodijah adalah sebuah masjid yang
berdiri pada 5 November 2014. Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf yang
disumbangkan salah seorang warga dusun Petir yang berpindah tempat tinggal ke
daerah Gunung Kidul. Pada tahun – tahun sebelumnya,
masyarakat dusun belum mempunyai kemampuan mengumpulkan
dana agar bisa membangun masjid. Hal itu dikarenakan sedikitnya jumlah penduduk
dusun dan penghasilan per KK yang tidak menentu sehingga sangat sulit untuk
mengumpulkan dana pembangunan apabila hanya berasal dari hasil iuran warga
dusun sendiri.
Sampai pada suatu ketika ada seorang pemuda dusun
tetangga yang mengabarkan bahwa majikan tempat ia bekerja sedang mencari sebuah
dusun yang belum memiliki masjid dan ia akan menyumbangkan sebagian hartanya
untuk di donasikan ke dalam pembangunan masjid
Setelah adanya musyawarah, pendonatur berkunjung
ke dusun Petir untuk melihat lahan yang akan di gunakan sebagai tempat
pembangunan masjid sekaligus untuk bersilaturahmi kepada warga dusun.
Pendonatur sendiri bernama Bapak Said, beliau adalah orang asli dari Arab Saudi
namun sempat berdomisili di Solo. Bapak Said menuturkan bahwa beliau
mendonasikan hartanya untuk pembangunan masjid sebagai salah satu persembahan
kepada kedua orang tuanya yang sudah wafat.
Beliau merasa selama kedua orang tuanya hidup beliau belum bisa membanggakan mereka sehingga beliau mendonaturkan hartanya atas nama orang tua beliau yaitu Alm.Bapak Ali dan Alm.Ibu Khodijah. Sehingga pada saat masjid telah berdiri tegak nantinya beliau mempunyai permintaan untuk nama masjidnya adalah masjid Ali Khodijah. Pak Said berharap kedua orang tuanya tetap mendapat alam jariyah dari pemanfaatan masjid di dusun Petir ini.
Beliau merasa selama kedua orang tuanya hidup beliau belum bisa membanggakan mereka sehingga beliau mendonaturkan hartanya atas nama orang tua beliau yaitu Alm.Bapak Ali dan Alm.Ibu Khodijah. Sehingga pada saat masjid telah berdiri tegak nantinya beliau mempunyai permintaan untuk nama masjidnya adalah masjid Ali Khodijah. Pak Said berharap kedua orang tuanya tetap mendapat alam jariyah dari pemanfaatan masjid di dusun Petir ini.
Pada saat itu ada tiga lahan yang
dapat dipilih oleh warga masyarakat. Setelah beberapa kali bermusyawarah, warga
memilih untuk menggunakan lahan kosong samping gunung kolon. Warga memilih lahan samping gunung karena dinilai
lebih strategis untuk akses beribadah karena letaknya dipinggir jalan.
Lahan ini sudah lama tidak terurus karena pemiliknya yang berpindah tempat
tinggal ke Gunung Kidul, karena hal itu warga masyarakat bergotong royong untuk
membersihkan lahan tersebut selama beberapa hari agar layak untuk dijadikan
tempat ibadah.
Setelah lahan dirasa cukup mudah untuk dibangun maka warga dusun langsung bekerjasama dan gotong royong membuat fondasi bangunan. Proses pembuatan fondasi memakan waktu yang cukup lama dan material cukup banyak karena kondisi tanah yang miring dan berbatu. Fondasi bangunan dibuat dengan sangat kokoh dan dengan bahan yang bagus, tujuannya agar bangunan masjid nanti dapat berdiri dengan baik dan tak mudah ambruk.
Setelah lahan dirasa cukup mudah untuk dibangun maka warga dusun langsung bekerjasama dan gotong royong membuat fondasi bangunan. Proses pembuatan fondasi memakan waktu yang cukup lama dan material cukup banyak karena kondisi tanah yang miring dan berbatu. Fondasi bangunan dibuat dengan sangat kokoh dan dengan bahan yang bagus, tujuannya agar bangunan masjid nanti dapat berdiri dengan baik dan tak mudah ambruk.
v HIJAUNYA BANGUNAN
Pada
saat bangunan masjid sudah jadi para pemuda dusun langsung bergotong royung
untuk memplaser tembok yang masih berbatako. Proses pemplasteran berlangsung
selama beberapa hari saja karena para pemuda di setiap sore sampai malam selalu
bekerjasama untuk proses memplasternya. Para pemuda dengan senang hati dan
dengan keadaan santai melakukan kegiatan tersebut sebagai bentuk dari rasa
bahagia mereka. Setelah proses plaster selesai warga langsung menentukan warna
cat yang akan digunakan untuk warna masjid. Awalnya pendonatur memberi masukan
agar warna masjid hijau semua. Tetapi warga merasa tidak cocok apabila semua
warna harus hijau padahal keramik masjid saja warnanya sudah hijau, jadi warga
memilih warna yang tidak terlalu mencolok tetapi tetap memasukkan warna hijau
disetiap sisinya.
Setelah
diputuskan warnanya pemuda dusun langsung membeli cat dan dengan bantuan
bapak-bapak mereka bekerjasama untuk mengecat bangunan itu. Proses pengecatan
berlangsung selama satu minggu lebih karena saat itu sedang musim hujan jadi
proses pengecatan sedikit terhambat. Saat itu warna yang digunakan untuk masjid
memang disengaja bernuansa hijau karena warna hijau memang cukup sejuk untuk
warna tempat ibadah. Mulai dari keramik sampai warna mukena dan Al-Qur’an di
masjid juga didominasi oleh warna hijau. Selain itu warna dari pagar luar juga
diberi sentuhan hijau warna di atap masjid dan gentingnya pun disengaja warna
hijau. Pada saat proses telah selesai warga masyarakat langsung berinisiatif
untuk melengkapi peralatan masjid yang belum tersedia.
v KELENGKAPAN PENUNJANG
Mengenai
fasilitas ibadah sendiri masjid ini sudah memiliki almari yang isinya mukena,
sajadah dan sarung. Selain itu juga terdapat iqra’, juz’ama, dan Al-Qur’an.
Selain fasilitas diatas masjid ini juga memiliki satu mimbar yang di laci
mimbarnya terdapat beberapa buku tahlil dan buku bacaan islami serta buku
sholawatan dan buku ceramah. Selain kelengkapan itu di dalam masjid juga
terdapat karpet hijau sebagai alas ibadah.
Masjid
ini juga memiliki dua jam dinding yang terletak di depan pintu dan di atas
tembok mimbar. Di masjid ini juga terdapat dua kotak amal dan parabotan sound
system seperti mikrofon, spiker dan cd player yang biasanya digunakan untuk
memutar lagu – lagu islami selama bulan Ramadhan. Di dalam ruangan kecil samping mimbar juga
terdapat persediaan air mineral dan beberapa makanan ringan sebagai pengganjal
perut saat di adakannya pengajian dan siraman rohani setelah sholat isya’. Di
luar masjid dipasang papan pengumuman kaca dan disediakan papan tulis, spidol,
meja, dan penghapus apabila akan diadakan pengajian TPA. Selain fasilitas
ibadah masjid ini juga memiliki fasilitas kebersihan yang cukup lengkap.
Fasilitas
kebersihan itu sendiri adalah terdapatnya beberapa sapu lantai dan dua sapu
lidi, dua pel, dan beberapa temat sampah di luar halaman masjid. Di sini juga
terdapat kemoceng, ember pel dan sabun untuk mengepel. Selain itu juga terdapat
kain untuk membersihkan kaca masjid. Untuk alat pembersihan kamar mandi dan
tempat wudhu juga terdapat sikat dan alat pengosek kloset serta alat pembersih
air. Masjid ini memiliki dua kamar mandi dan dua tempat wudhu yang terdiri dari
beberapa kran air. Masjid ini juga memiliki satu tempat penampungan air. Dalam
keadaannya saat ini warga berinisiatif untuk melakukan pembangunan ruang di
belakang masjid yang akan dimanfaatkan sebagai tempat perabotan baru yang akan
dibeli karena ruangan kecil didalam masjid belum cukup untuk menampung
perabotan yang ada.
v DIGUNAKANNYA MASJID
Pada
saat ini masjid utamanya digunakan untuk beribadah oleh warga masyarakat. Tapi
berdasarkan penuturan Bapak Tiarno setiap kegiatan yang positif dan tidak
merugikan boleh – boleh saja dilakukan di dalam maupun disekitar lingkungan
masjid. Pada saat saya melakukan observasi masjid digunakan karyawan rumah
produksi rambut palsu sebagai tempat mereka bekerja karena kebetulan pada saat
itu rumah produksi yang terletak di bawah masjid sedang direnovasi oleh para
warga. Disela istirahat para karyawan menyempatkan diri untuk beribadah dan
membersihkan masjid sesuai dengan jadwal mereka piket. Karena para karyawan
selalu menggunakan masjid di sela mereka istirahat jadi oleh Bapak Tiarno
mereka dibentuk grup piket agar tetap menjaga kebersihan masjid setelah mereka
pakai.
Namun
terlepas dari itu para warga juga melakukan kerja bakti setiap hari minggu
untuk membersihkan masjid. Biasanya para remaja masjid juga turut membersihkan
masjid saat mereka selesai TPA. Selain kegiatan itu masjid juga digunakan
sebagai tempat untuk bermusyawarah warga dusun apabila mereka sedang menghadapi
persoalan atupun hanya sekedar membicarakan harapan mereka untuk masjid dan
dusun ini kedepannya. Masjid ini juga sering digunakan untuk tempat tahlil oleh
warga yang mengadakan tahlilan. Selain itu masjid juga digunakan remaja dan
anak – anak untuk tempat TPA mereka.
Remaja
masjid dan anak – anak biasanya melaksanakan TPA di hari minggu dan mereka di
bimbing oleh seorang pembimbing yang didatangkan dari dusun lain. Kebetulan di
dusun Petir belum ada yang mampu membimbing mereka mengenai agama karena Bapak
Tiarno sendiri repot dengan pekerjaannya. Namun sesekali Bapak Tiarno juga
mendampingi proses TPA ababila beliau tidak sedang bekerja. Selain diadakannya
TPA, setiap selesai sholat isya’ dan subuh warga masyarakat biasanya
melaksanakan kajian dan siraman rohani sebelum mereka pulang. Selain acara itu
masjid juga digunakan untuk tempat silaturahmi antar warga dusun dengan warga
dusun lain saat hari raya Idul Fitri. Masjid Ali Khodijah juga dimanfaatkan
sebagai tempat pembagian hewan kurban dan tempat pembagian zakat.
v UNIKNYA ALI KHODIJAH
Masjid yang berdiri tiga tahun yang lalu ini
memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan masjid lain disekitarnya.
Masjid ini memiliki bentuk yang sangat sederhana menyerupai rumah joglo, tapi
bedanya masjid ini dibangun dengan bahan full semen dan pasir. Sedangkan pada
rumah joglo biasanya material utama adalah kayu jati. Bagian masjid yang terbuat
dari kayu jati hanya terdiri dari pintu, mimbar, alamari, dan mejanya saja.
Sedangkan untuk material yang lain terbuat dari bahan logam maupun plastik. Hal
tersebut dikarenakan proses pembuatan yang diharapkan cepat selesai dan agar
lebih praktis serta tidak mudah keropos seperti halnya kayu.
Selain keunikan itu keunikan lain dari masjid adalah
banyaknya kaca jendela yang berada di dinding – dinding masjid. Masji Ali
Khodijah adalah sebuah masjid yang hanya memiliki satu pintu utama saja yaitu
di bagian depan masjid. Sedangkan pintu lain terdapat di sisi kanan dan kiri
bangunan yang masing – masing hanya terdapat satu pintu kecil saja. pada
bangunan masjid ini temboknya banyak diberi sentuhan kaca baik di depan maupun
disamping bangunan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, Bapak Tiarno
mengungkapkan bahwa memang hal tersebut sengaja dibuat sedemikian rupa agar
pencahayaan di dalam masjid bisa lebih terang dan agar suasana masjid menjadi
lebih alami dan tidak ada pembatas sehingga di pasanglah jendela besar yang
transparan dari dalam.
Bentuk jendela masjid juga sangat sederhana dan
tidak berlebihan karena bentuknya yang kotak dan tidak ada hiasan apapun di
dalam kaca sehingga menimbulkan kesan simpel. Selain itu di atas pintu utama
bagian luar juga terdapat kaligrafi yang ditulis mengikuti bentuk tembok depan
pintu. Kaligrafi ditulis dengan warna yang sangat selaras dengan cat yang ada
di masjid. Selain di bagian depan pintu kaligrafi juga terdapat di dalam
masjid. Kaligrafi ditulis memanjang mengikuti tembok masjid, selain di bagian
atas tembuk kaligrafi juga ditulis di bagian atas tembok mimbar. Dalam
penulisan kaligrafi sendiri penulisnya didatangkan oleh pendonatur dari Solo.
Dengan adanya kaligrafi, pendonatur berharap agar masyarakat lebih giat dan
lebih tertarik untuk beribadh dan mendalami Islam secara menyeluruh lagi.
Kesan lain yang saya dapat di masjid ini adalah kesejukan
yang saya rasakan dari awal membuka pintu. Masjid ini tidak memiliki satupun
alat pendigin ruangan, jangankan ac kipas anginpun tidak terdapat di dalam
masjid. Tetapi menariknya masjid ini sangatlah sejuk dan tidak panas. Mungkin
ini salah satu fungsi dari jendela juga karena banyak jendela dan apabila di
buka angin masuk membawa udara yang sejuk. Selain itu banyak tumbuhan yang
hidup di sekitar masjid meskipun terletak di pinggir jalan kesejukannya tidak
berkurang dengan adanya tumbuhan itu. Masjid juga tidak berbau aneh ataupun bau
busuk meskipun tidak ada pengharum ruangan. Ini salah satu kesan pertama yang
saya dapat saat observasi di masjid ini.
v KEJAWEN
Pada
kesehariannya masyarakat dusun diajarkan lebih banyak mengenai Islam sehingga
mereka lebih tahu dan lebih mengerti akan apa itu sebenarnya Islam. Masyarakat
biasanya bisa mendapat kajian seputar Islam setelah sholat Isya’ dan Subuh. Di
dusun ini sendiri masih sering diadakan acara kejawen seperti kenduri atau
bahasa dusun saya adalah acara bancakan. Bancakan biasanya dilakukan pada tujuh
harian orang meninggal sampai dengan seribu hari orang tersebut meninggal.
Selain itu biasanya juga di adakan apabila akan di tempatinya rumah yang baru
di bangun. Ada juga saat seseorang memiliki hajat atau kendaraan baru biasanya
juga di adakan acara bancakan oleh si pemilik.
Selain
itu masyarakat dusun juga melakukan acara bersih dusun setiap tahunnya. Dalam
acara ini biasanya sesama warga saling memberi makanan yang dibungkus daun jati
kesesama tetangga. Selain hal itu saat bersih dusun warga biasanya berkumpul di
rumah kepala dusun untuk makan bersama sekaligus silaturahmi. Selain acara itu
pemuda dusun pada saat malam Suro selalu mengadakan acara begadang sampai pagi.
Biasanya mereka melakukan hal tersebut hanya untuk berkumpul di pos kamling
dusun kami sekaligus menjaga keamanan dusun. Masyarakat melakukan acara kejawen
tersebut hanya untuk melestarikan adat saja tanpa ada unsur yang lain. Hal tersebut bisa terjadi karena mereka sudah
mulai faham dan mengerti bahwa umumnya acara itu bertujuan untuk saling
silaturahmi dan saling berbagi rasa syukur atas karunia yang diberikan Allah
untuk mereka.
Contohnya
saja pada saat bagi – bagi makanan dan bancakan mereka secara tidak langsung
sedang bersedekah kepada tentangga mereka masing – masing. Untuk ritual kejawen
lainnya masyarakat dusun tidak terlalu dipusingkan meskipun dusun lain
melakukan ritual kejawen yang cukup banyak. Karena pada dasarnya ritual kejawen
di dusun petir memang hanya itu dan mereka juga berusaha untuk selalu menjaga
budaya itu tanpa menghilangkan unsur sakralnya. Masyarakat percaya budaya itu harus
selalu dijaga dan di ambil nilai positifnya tanpa menjelek – jelekkan budaya
itu sendiri. Saat ini masyarakat juga belajar banyak tentang peran budaya bagi
perkembangan agama Islam yang ada di lingkungan mereka saat ini.
v HARAPAN BESAR
Dengan
adanya masjid ini Bapak Tiarno dan warga masyarakat memiliki harapan banyak
mengenai kemajuan dusun Petir. Warga berharap dengan adanya masjid kondisi dan
pemahaman agama mereka bisa lebih luas dan lebih terarah lagi. Masyarakat juga
berharap anak – anak mereka lebih tahu tentang agama dengan selalu mengikuti
TPA yang di selenggarakan remaja masjid setiap seminggu sekali. Selain itu
warga juga berharap masjid bisa digunakan terus menerus untuk beribadah tanpa
ada kata sepi. Masyarakat sadar bahwa jumlah penduduk mereka hanya sedikit maka
dari itu mereka ingin terus meramaikan masjid Ali Khodijah dengan kegiatan
positif mereka. Selain harapan mengenai kemajuan agama, masyarakat juga
memiliki keinginan untuk membangun ruangan di belakang masjid agar bisa
digunakan sebagai tempat investasi barang – barang perabotan masjid.
Bapak
Tiarno juga menuturkan harapannya agar masyarakat selalu semangat untuk
beribadah dan mengembangkan pengetahuan mereka dengan berbagai keterbatasan
yang masyarakat dusun miliki. Mulai dari kurangnya ulama atau kurangnya guru
agama di dusun Petir sendiri. Bapak Tiarno juga berharap agar para pemuda dusun
bisa menjaga dan bisa mengemangkan dusun kecil ini menjadi dusun yang maju dan
dusun yang penduduknya memiliki pengetahuan luas mengenai budaya maupun agama
sehingga mereka tidak mudah untuk di adu domba apabila ada golongan agama yang
berbeda. Karena pada dasarnya masyarakat percaya bahwa Islam itu satu dan perbedaan
itu mutlak jadi tidak perlu diributkan apalagi sampai terjadi perselisihan.
v REFLEKSI
Dengan adanya pemahaman lanjut mengenai sejarah dan
kegiatan masyarakat dusun, kita dapat menyimpulkan bagaimana refleksi atau
kaitan yang pasti mengenai sejarah peradaban Islam dengan hasil observasi dan
wawancara saya. Pembangunan masjid yang di lakukan warga tentunya sangat
berkaitan erat dengan sejarah islam karena tanpa disadari masyarakat membuat
tempat ibadah di dusun sebagai pusat dan sumber utama peribadatan mereka.
Mereka menganut sejarah yang pernah di alami para Nabi yaitu dengan membangun
tempat peribadatan. Tempat peribadatan itu sendiri bukan hanya sebagai pusat
ibadah seperti shotal, mengaji, berdzikir, ataupun bersholawat. Tetapi masjid
di dusun ini sekaligus digunakan sebagai tempat musyawarah dan sebagai tempat
warga untuk melakukan berbagai hal positif seperti tahlil, tempat berkumpul dan
silaturahmi, sekaligus tempat bekerja.
Selain pemanfaatan tersebut warga masyarakat juga
berusaha untuk selalu menjaga tradisi dari budaya mereka. Budaya yang dibawa
oleh para pendahulu sebagai bentuk dari cara mereka mengucap syukur. Budaya itu
antara lain mengenai acara kenduri/ bancakan, acara bersih dusun dan acara
begadang (melekan) yang dilakukan pada malam Suro. Berdasarkan sejarah
peradaban Islam sendiri memang tidak ada tradisi seperti itu, masyarakat juga
menyadari fakta yang ada. Namun sebagai bentuk dan rasa sayang mereka pada
budaya jawa mereka tetap melestarikannya sampai sekarang dan mereka faham apa
yang harus diyakini berdasarkan ajaran Islam.
story pembangunanya bagus goodluck
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus